Cermin ( Cerita Mini )
INDAH HATIMU…BIARLAH JADI MILIKKU…
Hp siemens c-75 kuletakkan begitu saja di meja. Ibu baru saja telepon meminta agar Aku segera melamar gadis idamanku. Aah. Apa yang harus kulakukan. Gadis pujaanku adalah seorang pembantu rumah tangga. Tapi bukan predikat itu yang membuatku ragu. Justru Akulah yang merasa malu, rasanya Aku tak pantas berdampingan dengannya.
“Ayolah mas, tunggu apa lagi…Dinta setuju deh kalau mas Rio menikah sama mbak Indah…Tuh, mumpung mbak Indah lagi nggak sibuk, ayo bilang…” Setengah memaksa Dinta menarik tanganku beranjak untuk menemui Indah. “Iya..iya…tapi kalau ditolak..? Tanyaku. “Pede aja lagi, percaya deh,…mbak Indah kayaknya juga suka sama mas Rio.” Yaah apa boleh buat. Memang rencananya hari ini Aku bertekad untuk mengungkapkan perasaanku pada Indah. So….Pelan dan pasti dengan keberanian yang tidak luar biasa Aku menghampiri Indah yang tengah asyik menyetrika.
“Indah…” Sapaku pelan. Wajah anggun itu menoleh, bibirnya tersenyum kecil. “boleh Aku bicara sama kamu…”, Tanyaku seraya kutatap wajahnya, Dia menunduk. Jemarinya yang lentik asyik mearpikan baju dan menaruhnya di keranjang, “Mas Rio kok lucu, bicara saja…kan selama ini kita sering bicara-bicara…memang ada sesuatu?..” Aku terdiam. Kutarik napas sesaat. “Iya…tapi…Aku takut kamu marah, …” Antara khawatir, cemas dan bingung berbaur menjadi satu dibenakku. “Memang, apa yang ingin Mas katakan..” Dia balik bertanya. “Indah,.. aku ingin melamarmu. …” Akhirnya keluar juga kata-kata itu. Indah terdiam. Suasana hening. “Saya tahu Indah,.. usia kita memamg terpaut jauh…tapi.. selama ini aku memang belum menemukan jodoh yang cocok… dan.. sekarang aku sudah menemukannya…kamulah orangnya Indah..” Kataku tersendat. Mataku menerawang ke taman halaman rumah. Sepasang kupu-kupu tampak ceria beterbangan kesana-kemari. Ah..andai kupu-kupu itu, adalah Aku dan Indah. Mahluk berlesung pipit di depanku mematung, tak ada reaksi apapun. “Besok saya pulang…” jawabnya lirih. Lho! Sekarang aku yang terkejut. “Dua, tiga hari nanti saya kembali. Saya akan memberi tahu bapak ibu….boleh..?” sambungnya. Wajahnya menatapku lekat. Aku hanya bisa mengangguk. “Janji kamu pasti kembali..!” Tanyaku penuh harap
“Iya..”
“Dengan jawaban…”
“Iya..”
“Jawabanmu iya..”
“Eh, kok,…ya..jawabannya nanti kalau saya sudah kesini lagi…” Aku tertawa lirih mendengar jawabannya. Dan..rasanya ada harapan besar membayang di pelupuk mata. Sementara dari ruang depan kulihat Dinta mengangguk-angguk seraya berbisik Yes…yes..
Sudah seminggu Indah pulang. Sudah seminggu ini pula Aku kelimpungan. Makan jadi nggak enak, tidur tak nyenyak. Ah, lama-lama badan jadi rusak deh. Rumah jadi kurang terurus, cucian menumpuk terus. Dinta jadi uring-uringan. Segala pekerjaan Indah beralih ketangannya. “Disusul saja mas! barangkali ada apa-apa dengan mbak Indah.” katanya khawatir. Disusul ?! Aku tercenung sejenak. Ah ya, kenapa hal itu tidak terpikirkan olehku. Ya.. besok aku akan menyusul Indah! Ijin sehari untuk keperluan yang teramat sangat penting…..kenapa tidak. Tapi alasannya apa ya…..?
Paginya ketika Avanza Tahun 2005, hendak kukeluarkan dari garasi, Dinta menghampiriku. “Naik bis saja mas. Rumah mbak Indah kan jauh di pelosok. Ntar ngojek aja, praktis, bisa sampai alamat lagi!” Untuk kesekian kalinya saran si Centil yang baru lulus SMK itu kuturuti. “Oh ya mas..Ini..untuk jaga-jaga, lima juta.” Dinta menyerahkan sebuah amplop tebal. “Ayo Dinta antar mas ke Terminal”.
Sepanjang perjalanan, diantara pucuk-pucuk pinus, tanah-tanah merah dan sungai yang berliku, aah mengapa..wajah Indah selalu hadir disana. Tidak itu saja, senyumnya, lesung pipitnya juga senantiasa membayang dan menari-nari di kelopak mataku. Aku jadi teringat dua bulan yang lalu saat aku bertemu dengan Indah. Sosok anggun nan ayu itu berdiri mematung di depan pintu rumah. Aku pikir Dia sales girl yang akan menawarkan barang, eh ternyata Dia bermaksud melamar pekerjaan yang kuiklankan di radio. Aaah, Aku mendesah. Kutarik napas dalam-dalam. Bis jurusan Pacitan-Tulakan berjalan lambat. Jalan yang berkelok naik turun membuat perutku sedikit mual. Aku kembali kepada sosok semampai bernama Indah Cahyaningsih. Mau-maunya Dia melamar jadi pembantu dan gajinya akan diberikan kepada tetangganya yang sedang sakit kronis. Tapi terlepas dari dari itu semua, Aku bersyukur. Dengan kehadirannya hatiku yang selalu beku terhadap yang namanya cinta kini perlahan meleleh. Ada kerinduan yang setia setiap menyergap. Panah asmarapun semakin dalam menghujam relung hatiku. Andai Aku bisa romantis, ingin kuciptakan sebuah puisi indah untuknya. Saat kupinta adikku untuk membuatkan sebuah puisi, Dia tertawa lepas. “Naah, apa Dinta bilang,….mulanya biasa saja….eh, akhirnya jatuh cinta juga!” Ucapnya penuh sindiran. “Eh tapi kalau mas lagi nggak ada, mbak Indah sering lo nanya-nanya tentang mas.” Aku sedikit terkejut. “Lalu apa katamu?” Tanyaku penasaran. “Ya…Dinta bilang kalau mas Rio udah tua, rambutnya udah putih….play boy..terus…” Dinta melirikku seraya senyum-senyum. “Sudah, sudah..ngawur, kamu memang nenek sihir..” Tawa Dinta semakin keras. Dasar!
Dan memang selama dua bulan Dia bekerja, rumahku mengalami perubahan drastis. Setiap hari perabot rumah, taman, kolam tertata bersih, rapi dan sedap dipandang. Sebelum aku berangkat kerja, sudah tersedia sarapan dan minuman hangat. Bahkan sepatu yang hendak kupakai juga sudah nampak bersih, licin dan mengkilat. Ah siapa yang tidak senang terhadap servis yang memuaskan ini. Ah Indah..Engkaulah sosok yang mampu membuat hatiku bertabur benih asmara. “Mas sudah sampai Tulakan ” Suara kondektur membuyarkan lamunanku. Aku segera turun dari bus. Udara kota kecamatan Tulakan benar-benar sejuk dan segar. Deretan toko dan kios, lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang berjualan menandakan kota kecil ini mulai menggeliat, memutar roda ekonomi. Hari masih pagi cahya mentari terasa hangat ditubuh. Dengan berbekal secarik kertas alamat yang kurang jelas, aku mengandalkan tukang ojek untuk mencari alamat yang kutuju. Jalan yang berbatu, pemandangan yang indah, bukit yang hijau menambah pengalaman batin tersendiri buatku. Sampai disebuah warung kecil, tukang ojek itu menghentikan motor tuanya.
“Sampai disini mas. Mas harus menyeberang sungai itu, terus jalan kaki kira-kira dua kilo, setelah itu tanya saja rumah pak haji Sueib, semua orang sudah tahu.” Mataku memandang sungai yang tak seberapa dalam airnya. Ada beberapa orang yang menyeberang disana. ” Ya. Ini jalan pintas mas, kalau pas banjir, mas harus mutar jalan kira-kira 15 kilo, lewat jembatan gantung.” Yah apa boleh buat. Tidak ada jalan lain, tukang ojek itu segera berlalu. Aku berlari kecil melewati jalan setapak yang menuju kesungai. Seorang Ibu bersama gadis kecil tampak hendak bersiap menyeberang.
“Biar adik kecil ini saya gendong…mbak…!” Perempuan itu menoleh, “Waah terima kasih, Rindi mau digendong om..?” jawabnya sembari tersenyum lalu menatap gadis kecilnya. Gadis itu mengangguk senang. “Kalau begitu biar jaket mas saya bawakan.” Tawarnya, “Mau kondangan juga?” Aku tertegun sejenak, kondangan? “Eh..iya…” kataku tergagap. “Oh, ya saya Siswi mamanya Rindi.” Perempuan itu mengulurkan tangannya. Aku hanya menyentuh kecil ujung jari tangannya. Kata Indah kalau bukan muhrim nggak boleh salaman dengan wanita. Ya gara-gara Dia juga, Dinta adikku satu-satunya sekarang sudah berjilbab, tidak tomboy lagi. Tidak itu saja, setiap hari jum’at Indah selalu mengingatkan agar aku ke masjid, hal yang jarang kulakukan sebelumnya. Yah sejak kehadirannya itulah Aku dan Dinta jadi melek Agama. Jadi rajin sholat dan puasa. Apa jadinya kalau tidak ada Dia, barangkali sampai detik ini Aku masih dipenuhi dosa. “Saya Rio..” Ucapku. “Om Rio mau ke rumah tante Indah ya. Rindi kalau liburan juga sering kerumah tante Indah. Eh kok om Rio nggak bawa kado kayak mama?” sahut mahluk kecil yang sudah bertengger di punggungku. “Rindi, yang bawa kado itu biasanya untuk perempuan, kalau om Rio kan cuma bawa amplop”, sahut mamanya Rindi. Aku tercekat! Sampai diseberang sungai, pikiranku masih diliputi tanda tanya besar. Hatiku semakin tidak karuan, langkahku jadi tersendat. Mataku nanar menatap jalan setapak didepanku. Rerumputan, ilalang seolah menertawaiku. Gadis dipunggungku jadi terasa berat kugendong. Kami terus menyusuri jalan kecil yang semakin menanjak.
Dari mbak Siswi Aku mengetahui kalau hari ini Indah mau menikah. Bukan karena Cinta, tetapi karena kehendak Ayahnya yang tidak pernah memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk memilih jodoh. Di Pacitan, kata mbak sis, Indah sebenarnya sudah punya calon, seorang pengusaha kayu sekaligus Guru di sebuah SMK. Aku menghentikan langkahku sejenak. Berarti yang dimaksud tidak lain adalah Aku? Ah Tidak salah lagi deh.
Saat sepoinya sang bayu mengusap wajahku, samar kudengar senandung lagu tape recorder dari kejauhan. “Capek ya, sebentar lagi sampai kok. Itu sudah kedengaran suara tipnya. Eh, si kecil kayaknya tidur pulas tuh”. Mbak Siswi tersenyum kearahku.
Perjalanan ini rupanya berakhir juga. Tiba di sebuah rumah yang mirip bangunan joglo, beberapa orang menyambut kedatangan kami. Hiasan janur kuning, pita-pita yang bergelantungan menghiasi suasana rumah itu. Dari balik pintu, muncul seraut wajah yang kukenal.. “Indaah!” Serak kupanggil namanya, wajah itu menoleh. “ Mas Rio,“ Antara kaget tak percaya dan sebersit rindu kulihat dimatanya. “Kamu mau menikah Indah…meninggalkan aku..?” Tanyaku menahan kegalauan. Indah tertunduk diam, mbak Siswi bengong bergantian menatap wajah Indah lalu memandangku penuh rasa heran. “Jadi, ini calonmu Indah?” Tanya mbak Sis keheranan. “Iya..ini mas Rio, yang dulu pernah Indah ceritakan..maafkan saya mas, ini kehendak orang tuaku. Aku tidak bisa membantah“ jawabnya lirih. Ada tetesan bening mengalir dipipinya. Mbak Siswi menyodorkan tissu.
]”Aku ikhlas Indah …tapi katakan padaku Indah, kalau ini bukan kehendak orang tuamu, apakah … kamu bersedia jadi … ?!! Tak dapat kuteruskan kalimatku Ia mengangguk. “Aku mencintaimu mas!” ucapnya pelan. Si kecil yang tengah kugendong diraihnya pelan. ”Ini kemenakanku, terima kasih telah menggendongnya mas.” Ucapnya tersenyum kecil, nadanya masih terisak sendu. “Mas Rio…kuatkan hatimu ya, percayalah kalau sudah jodoh pasti tidak akan kemana”, Mbak Sis menyerahkan jaketku. Aku mengangguk galau. Saat kuraba saku jaketku, aku baru teringat ada amplop didalamnya. “Indah,… semoga kau bahagia selamanya ,” kuserahkan amplop itu kepadanya. Penuh keraguan tangannya menerima pemberianku. “Aku pulang ya … mbak Sis, aku pamit, salam buat si kecil.” Aku coba tersenyum menatap kedua perempuan itu. Dengan berat kulangkahkan kaki meninggalkan rumah Indah. “Mas..!” kudengar Indah memanggilku. Aku menatap untuk yang terakhir kalinya wajah Indah yang berdiri mematung. Kulihat air matanya semakin deras mengalir. Akupun demikian
Gemericik air, hamparan bebatuan dan gubuk kecil diseberang sungai adalah saksi kesendirianku saat ini. Ingin kukabarkan pada Dinta bahwa kakaknya telah putus cinta. Ingin juga kukabarkan pada orang tuaku yang jauh disana, bahwa putra tercintanya ditanah perantauan ternyata sampai saat ini belum juga mendapatkan jodoh. Aku beranjak menyeberang sungai yang tadi kulewati. Saat ini memang kurasakan sepi menggelayut disekelilingku.
“Mas… mas Riooo…,” samar kudengar suara yang selalu kurindukan memecah keheningan.. Aku tertegun. Benarkah ada suara memanggilku. Sunyi senyap. Ah ternyata hanya desahan bayu yang menggoda telingaku, tapi tidak.. Suara itu sekali lagi kudengar. Aku berbalik arah. Kulihat Indah, mbak siswi dan seorang tua yang belum kukenal berlari kecil kearahku. Ada apa gerangan? Bergegas kuhampiri mereka. Kutatap Indah. Wajahnya berbinar, bibirnya tersenyum. Dan kulihat tampak pipinya bersemu merah. Seolah menyembunyikan sesuatu.
”Ada apa Indah … “ gadis yang kutanya itu menunduk, “Ayah..” tangannya menyentil sosok separuh baya disampingnya. “Emh..begini nak Rio. Kami mendapat kabar, bahwa mempelai prianya mengalami kecelakaan … dan meninggal seketika..” Pak tua ini menghela napas sejenak. Rokok yang ada ditangannya dihisap kuat-kuat. Jantungku mendadak berdegup kencang. Aku masih meraba–raba arah pembicaraannya. “Indah ingin agar mas Rio menjadi pengantin prianya?” Jantungku kini serasa berhenti berdetak mendengar ucapan pak tua itu. Kutatap Indah, mbak Siswi dan pak tua itu. Semuanya mengangguk serempak.
“’Jadi bagaimana nak Rio.?!
“ Iya-iya pak saya bersedia …”
“Kalau begitu ayo secepatnya kita laksanakan akad nikah!“
“Saya tidak membawa mahar Indah.?
“Ini amplop yang tadi diberikan pada saya.”
“ Aduh …iya deh, tapi isinya tidak seberapa Indah “
Indah hanya tersenyum. Ah…akhirnya ada happy ending juga. Akhir yang tidak kusangka dan sungguh membahagiakan..Dinta.Ibu…kini Aku..sudah.TAMAT saja deh.
—-◊◊◊◊◊—–
Pacitan, akhir Juli 2007
Buat Indah tersayang.
Puisi Khinta Pertama
IBRAH
Sang koruptor….tergeletak diantara traktor,
Setelah di dor !
………….
Lalu sang pejabat.….tergelincir
Lari kocar-kacir, sementara rakyat mencibir
Oleh ulahnya yang memlintir sopir..
Anteknya…anggota dewan..
Terlentang mengenaskan
Karna terhimpit impian, angan dan harapan
Dan kini hanya tinggal bayangan
……………..
Sementara sang dukun
Kini terjangkit virus pikun.. mirip kalkun
Gara-gara polahnya yang tidak santu.
Hingga menggantung di pohon sukun
……….
Ibrah hari ini
Cermin retak akan sosok yang sarat kehampaan
Terbias asa, menyatukan hasrat
Terpendam dalam dendam
Hingga sia-sia
Menanti sang ajal….
—–oo0oo—–
Pacitan, Medio Juli 2007
OBSESI SANG PAPA
Bapak….tak bisakah
Engkau lebih keras memeras keringat..
Mengayuh lebih kencang
Becak tua yang berderit lantang
Menggilas kota, bawa penumpang
Hingga larut….engkau pulang…
Maak,…..tak jualah engkau lelah
Jajakan dagangan…tiada henti melangkah
Menyapa rumah demi rumah
Mengais rupiah…meski kadang di tong sampa
Tapi tetap saja aku tak bisa sekolah
Malam ini Tuhan…
Raja dari segala alam dan lautan
Kumohon pada-Mu…sekali ini saja..
Panggilah aku, bapak dan mak
Menghadap keharibaan-Mu
Buat nikmati surga yang Engkau janjikan
Yang slama ini
Tak dapat kuraih di alam fana…
Sungguh
—-oo0oo—-
Pacitan, Akhir Juli 2007
BELENGGU NURANI
Trotoar jalan…
Saat kujajakan Koran,
Kulihat bapak-bapak anggota dewan
Tertawa lebar dengan perut yang besar
Katanya..mereka hendak tamasya
Habiskan sisa uang Negara
Bersama keluarga, sanak dan saudara
Dan..tak satupun dari mereka
Berpaling ke arahku..
Yang menadah..sekedar mengharap rupiah..
Trotoar jalan..
Saat kubaca selembar Koran
Pesawat rombongan pejabat dewan
Meledak, jatuh di lautan seberang
Dan hilang…ditelan gelombang..
Trotoar jalan..
Tertunduk lesu kumelangkah pulang
Ternyata belenggu dan nurani
Dari sang penguasa
Hanyalah setitik noda
Yang kini terbias merana…dengan sia-sia.
—–oo0oo—-
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!