Armin ( Artikel Mini )

BAGAIMANA MEMILIH SEKOLAH ?

Dengan berakhirnya kegiatan kelulusan sekolah, baik dari tingkat SD, SLTP maupun SLTA, maka “ Pesta Tahunan “, PSB tahun ajaran baru mulai terlihat semarak di berbagai daerah. Dari pelosok desa sampai kota besar, dihampir setiap sekolah dibanjiri oleh para calon siswa baru yang ingin meneruskan jenjang pendidikannya. Seiring dengan momen tersebut para orang tua juga sudah disibukkan dalam memilih sekolah bagi putra-putrinya. Tidak sedikit dari mereka yang merasa was-was saat pendaftaran siswa baru, hal ini disebabkan karena mereka khawatir apabila putra-putrinya tidak “ gol “ di sekolah lanjutan yang dituju.

Problematika memilih sekolah sebenarnya tidak terlalu kompleks, masing-masing sekolah mempunyai kriteria-kriteria tersendiri. Yang menarik adalah ternyata ada sekolah unggulan tetapi pendaftarnya tidak memenuhi pagu yang ditentukan. Dilain pihak banyak sekolah yang membuka beragam jurusan tetapi ternyata animo siswa sangat kurang terhadap jurusan tersebut. Sehingga untuk memenuhi pagu bangku yang kosong, akhirnya dibuka PSB gelombang 2. Fenomena ini menandakan bahwa para siswa sudah mulai selektif dalam memilih sekolah.

Dalam memilih sekolah, seyogyanya orang tua bersikap bijaksana, tidak memaksakan kehendak bagi putra-putrinya untuk meneruskan ke sekolah yang dianggap favorit. Karena belum tentu sekolah yang demikian akan menjamin 100 % terhadap keberhasilan siswanya. Hanya memang segala infrastruktur yang dimiliki sekolah tertentu lebih lengkap dan canggih dibandingkan dengan sekolah biasa. Jadi tinggal bagaimana para siswanya dapat memaksimalkan fasilitas yang tersedia tersebut. Oleh karenanya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan, musyawarah untuk mufakat dengan berdasar kondisi ekonomi, kualitas sekolah dan prospeknya mutlak diperlukan. Sebab bagaimanapun juga “ anak ” lebih mengerti akan kemampuan, ketrampilan, minat dan bakat yang dimilikinya. Dengan bekal tersebut anak jadi lebih fokus dalam menentukan sekolahnya. Pinsip idealis para orang tua sudah saatnya dirubah menjadi legalitas untuk lebih memotivasi para putra-putinya dalam meneruskan jenjang pendidikannya. Akan lebih baik apabila jauh-jauh hari sebelumnya para orang tua dan siswa sudah mempunyai planning yang matang dalam menentukan sekolah lanjutan. Jadi tidak bersifat insidental yang pada akhirnya hanya akan membuat pusing tujuh keliling.

Dengan demikian prospek yang diharapkan, tentu para putra-putri dari para orang tua dapat belajar dengan lebih nyaman, kondusif dan bukan tidak mungkin kedepannya mereka prestasi yang dapat dibanggakan oleh kita semua. Semoga.

 

                                        —-ooo0ooo—-

 

LBB DAN PERANNYA

Menjamurnya Lembaga Bimbingan Belajar ( LBB ) pada saat ini menandakan bahwa lembaga tersebut sangat perduli terhadap dunia pendidikan dalam rangka meningkatkan prestasi belajar para siswa. Kontribusi yang diberikan oleh LBB juga sangat signifikan dan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Namun disisi lain, dengan semakin banyaknya LBB yang bermunculan ternyata tidak diimbangi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Tempat yang ala kadarnya, instruktur yang asal rekrut dan modul yang asal-asalan membuktikan bahwa LBB tersebut hanya mementingkan keuntungan financial semata. Oleh karenanya para orang tua harus pandai-pandai memilah dan memilih LBB mana yang representatif bagi putra-putrinya.

LBB pada saat ini memang menjadi “ trend “ anak usia sekolah. Karena memang tidak lengkap rasanya, apabila tidak mengikuti LBB. Disamping itu para siswa juga lebih “ enjoy “ belajar di lembaga bimbingan tersebut. LBB juga sekaligus merupakan batu lompatan sebagai sarana untuk menunjang dalam menghadapi UAN atau memasuki sekolah lanjutan, terlebih apabila sekolah yang diincar adalah sekolah favorit.

Keberadaan LBB pada hakekatnya sama sekali tidak merugikan bagi guru-guru sekolah formal. Bahkan sebaliknya mereka sangat diuntungkan. Tugas guru menjadi semakin ringan, prestasi belajar siswa meningkat sehingga KBK di sekolah dapat terlaksana dengan baik. Dampak positifnya, para guru akan lebih “ bermartabat “ dan menjadi motivasi tersendiri untuk turut meningkatkan kinerjanya baik dari segi methode mengajar, pembuatan modul maupun dalam pengelolaan kelas serta hal-hal lain yang terkait. Fenomena yang menarik adalah ternyata tidak sedikit peserta LBB adalah para putra-putri orang tua yang berprofesi sebagai guru. Memang terkesan ironis, putra-putri guru diserahkan ke LBB untuk dibimbing dan diberi materi pelajaran yang seharusnya bisa Ia kerjakan. Contoh kecil bisa dilihat pada murid SD yang lebih mempercayai instruktur LBB “ ketimbang “ orang tuanya yang nota bene adalah guru. Tetapi “ enjoy “ itulah yang mendasari sikap para anak-anak tersebut.

LBB dapat dikatakan sebagai perpanjangan “ ilmu “ dari sekolah formal. Karena pada dasarnya sekolah adalah merupakan tujuan utama untuk memperoleh bekal pendidikan bagi kehidupan di masa depan. Namun bukan suatu keharusan yang mutlak mengikuti LBB atau tidak, semua tergantung pada SDM-SDM masing-masing. Akhirnya harapan besar ada dipundak putra-putri kita agar kelak menjadi insan cendikia, bertaqwa, berbakti dan menjadi aset bangsa yang dapat dibanggakan demi kemajuan negara kita. Semoga.

Tulis sebuah Komentar