Puisi Khinta Pertama

September 11, 2007 at 7:25 am (puisi)

IBRAH

Sang koruptor….tergeletak diantara traktor,
Setelah di dor !
………….
Lalu sang pejabat.….tergelincir
Lari kocar-kacir, sementara rakyat mencibir
Oleh ulahnya yang memlintir sopir..
Anteknya…anggota dewan..
Terlentang mengenaskan
Karna terhimpit impian, angan dan harapan
Dan kini hanya tinggal bayangan
……………..
Sementara sang dukun
Kini terjangkit virus pikun.. mirip kalkun
Gara-gara polahnya yang tidak santu.
Hingga menggantung di pohon sukun
……….
Ibrah hari ini
Cermin retak akan sosok yang sarat kehampaan
Terbias asa, menyatukan hasrat
Terpendam dalam dendam
Hingga sia-sia
Menanti sang ajal….

—–oo0oo—–

Pacitan, Medio Juli 2007

OBSESI SANG PAPA

Bapak….tak bisakah
Engkau lebih keras memeras keringat..
Mengayuh lebih kencang
Becak tua yang berderit lantang
Menggilas kota, bawa penumpang
Hingga larut….engkau pulang…

Maak,…..tak jualah engkau lelah
Jajakan dagangan…tiada henti melangkah
Menyapa rumah demi rumah
Mengais rupiah…meski kadang di tong sampa
Tapi tetap saja aku tak bisa sekolah

Malam ini Tuhan…
Raja dari segala alam dan lautan
Kumohon pada-Mu…sekali ini saja..
Panggilah aku, bapak dan mak
Menghadap keharibaan-Mu
Buat nikmati surga yang Engkau janjikan
Yang slama ini
Tak dapat kuraih di alam fana…
Sungguh

—-oo0oo—-
Pacitan, Akhir Juli 2007

BELENGGU NURANI

Trotoar jalan…
Saat kujajakan Koran,
Kulihat bapak-bapak anggota dewan
Tertawa lebar dengan perut yang besar
Katanya..mereka hendak tamasya
Habiskan sisa uang Negara
Bersama keluarga, sanak dan saudara
Dan..tak satupun dari mereka
Berpaling ke arahku..
Yang menadah..sekedar mengharap rupiah..

Trotoar jalan..
Saat kubaca selembar Koran
Pesawat rombongan pejabat dewan
Meledak, jatuh di lautan seberang
Dan hilang…ditelan gelombang..

Trotoar jalan..
Tertunduk lesu kumelangkah pulang
Ternyata belenggu dan nurani
Dari sang penguasa
Hanyalah setitik noda
Yang kini terbias merana…dengan sia-sia.

—–oo0oo—-

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar